GIPIKEPRI.COM – Hingga 2015, pertumbuhan industri pariwisata halal dapat dikatakan sebagai pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan jenis pariwisata lainnya. Pariwisata halal dalam artikel yang diterbitkan oleh traveltourismindonesia.com digambarkan sebagai berikut:

  • Tumbuh 100% lebih cepat daripada sektor wisata lainnya
  • Mencapai $ 135 miliar nilai pemesanan perjalanan ke luar negeri (outbound)
  • Diprediksikan akan tumbuh hingga $ 200 Miliar pada tahun 2020
  • Akan menjadi sebuah generator besar bisnis langsung dan jangka panjang dengan pendapatan maksimum.

Wisata halal merupakan konsep yang relatif baru dalam kajian pariwisata dewasa ini. Banyak wisatawan merasa canggung dengan hadirnya konsep wisata halal yang mengedepankan nilai-nilai Islam. Tetapi, jika dicermati lebih mendalam, wisata halal bukan sebuah monster yang menakutkan bagi wisatawan karena wisata halal bisa dikatakan hanya melengkapi wisata konvensional yang telah ada.

Posisi wisata halal adalah semacam alternatif bagi wisatawan Islam yang ingin mendapatkan tidak hanya kebutuhan wisata, tetapi juga kebutuhan spritual. Wisata halal, tidak hanya milik wisatwan Islam saja, wisatwan non-Islam juga diperbolehkan untuk menikmati wisata halal. Dalam konteks perkembangan pariwisata halal, kita bisa telusuri bahwa perkembangan wisata halal tidak bisa dilepaskan dari wisata religi, wisata syariah dan kemudian berkembang menjadi wisata halal. Proses perkembangan itu bisa dilihat dalam gambar berikut ini.

Wisata religi merupakan wisata tertua dalam dunia pariwisata (the oldest tourism in world). Wisata  ini telah ada sebelum perkembangan pariwisata itu sendiri. Wisata religi termasuk didalamnya adalah wisata ziarah ke tempat-tempat suci yang disakralkan oleh penganut agama. Artinya bahwa kegiatan ziarah sudah dilakukan oleh banyak orang untuk mengenang kembali ketokohan atau karya yang ditinggalkannya. Ziarah (pilgrimage) bisa diartikan sebagai a trip to a place considered sacred owing to a special influence of God therein (Ostrowski, 2000). Menurut Ostrowski, orang melakuakn ziarah lebih menekankan aspek motif agama dan untuk menunjukkan tindakan agama yang spesifik yang terkait dengan piety and penance.

Sementara wisata syariah berdasarkan pasal 1 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah, yang dimaksud syariah adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan/atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Sementara Kementrian Pariwisata Indonesia pada tahun 2012, mendefinisikan wisata syariah sebagai kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah.

Wisata syariah adalah wisata yang didasarkan pada nilai-nilai syariah Islam. Untuk mengembangkan wisata syariah, Kemenparekraf menggandengn beberapa pihak yakni Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU).

Pada tahun 2014, Kemenpar, telah menyusun pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah melalui peraturan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif nomor 2 tahun 2014 tentang dua kategori hotel syariah yakni hilal 1 dan hilal 2. Hilal 1 harus memenuhi 49 poin, semntara untuk naik ke hilal 2 harus memenuhi 74 poin.  Hilal 1 lebih longgar daripada hilal 2. Tabel hotel hilal 1 dan hilal 2 sebagai berikut :

Tabel 1. Perbedaan Hotel Syariah Hilal 1 dan Hilal 2

Kategori Restoran Dapur Toilet shower Beribadah Tamu Minuman
Hilal 1 Halal Sertifikasi Halal Ada Ada Tidak ada seleksi tamu Masih ada alkohol/wine
Hilal 2 Halal Sertfikasi Halal Ada Ada Seleksi tamu (surat nikah) Halal

 

Berikut penulis sampaikan perbedaan wisata konvensional, religi dan syariah.

Tabel 1. Perbedaan Wisata Konvensional, Religi dan Syariah

No Perbandingan Konvensional Religi Syariah
1 Obyek Alam, budaya, heritage dan kuliner Tempat ibadah dan peninggalan sejarah semuanya
2 Tujuan Menghibur Meningkatkan spritualitas Meningkatkan spritualitas dengan cara menghibur
3 Target Menyentuh kepuasan dankesenangan yang

berdimensi nafsu,

semata-mata hanya

untuk hiburan.

Aspek spiritual yang bisa menenagkan jiwa guna mencari ketengangan bathin. Memenuhikeinginan dan

kesenangan serta

menumbuhkan

kesadaran

beragama.

4 Guide Memahami danmenguasai

informasi sehingga

bisa menarik

wisatawan terhadap obyek wisata.

Menguasai sejarahtokoh dan lokasi

yang menjadi obyek

wisata

Membuat turistertarik pada obyek

sekaligus

membangkitkan

spirit religi wisatawan. Mampu

menjelaskan fungsi

dan peran syariah

dalam bentuk

kebahagiaan dan

kepuasan batin

dalam kehidupan

manusia.

5 Fasilitas Ibadah Sekedar Pelengkap Sekedar Pelengkap Menjadi bagian yangmenyatu dengan

obyek pariwisata,

ritual ibadah

menjadi bagian

paket hiburan

6 Kuliner Umum Umum Spesifik Halal
7 Relasi dengan Masyarakat sekitar Obyek Wisata Komplementar danhanya untuk

keuntungan materi

Komplementar danhanya untuk

keuntungan materi

Integrated, interaksiberdasar pada

prinsp syariah

8 Agenda Perjalanan Setiap Waktu Waktu-waktu tertentu Memperhatikan waktu.

 

Definsi berikutnya adalah adalah wisata halal. Dalam tataran konsep, sebetulnya masih banyak perdebatan terkait dengan penggunaan konsep wisata halal (halal tourism), wisata Islam (Islamic tourism), destinasi wisata ramah halal (halal friendly tourism destination), perjalanan halal (halal travel), destinasi perjalanan ramah Muslim (Muslim-friendly travel destination), dan gaya hidup halal (halal lifestyle).

Berdasarkan definisi di atas bisa dikatakan bahwa wisata Islam adalah wisata yang sesuai dengan Islam, melibatkan orang Islam yang tertarik untuk menjaga spirit keagamaan sambil melakukan travelling. Wisata halal bisa mencakup halal hotel, halal restaurant, halal resort and halal trip.

Pijakan wisata halal tidak bisa dilepaskan dari hukum Islam yang mengatur kehidupan orang Islam. Hukum dalam Islam ada lima.

  • Pertama wajib. Wajib merupakan perintah yang harus dikerjakan, jika perintah dikerjakan, maka akan mendapatkan pahala, sebaliknya jika tidak dikerjakan maka mendapatkan dosa.
  • Kedua, sunah. Hukum Sunah artinya anjuran. Jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa.
  • Ketiga adalah Haram. Jika dikerjakan akan mendapatkan dosa, sebaliknya jika ditinggalkan mendapatkan pahala.
  • Keempat, makruh. Hukum makruh ini jika dikerjakan tidak berdosa dan jika ditinggalkan mendapatkan pahala.
  • Hukum yang kelima adalah mubah. Jika dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa dan jika tidak dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa.

Pasar wisata halal diklasifikasikan menjadi tiga yakni :

  1. makanan,
  2. gaya hidup (kosmetik dan tekstil),
  3. dan pelayanan (paket wisata, keuangan, transportasi).

Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kemunculan wisata halal tidak bisa dilepaskan dari perkembangan wisata religi dan wisata syariah. Tren perkembangan wisata halal yang positif memberikan harapan bahwa wisata jenis ini akan berkembang dengan baik di masa mendatang.

Peringkat 10 besar negara destinasi wisata halal yang tergabung dalam OIC :

  1. Malaysia
  2. Turki
  3. Uni Emirat Arab
  4. Arab Saudi
  5. Qatar
  6. Indonesia
  7. Oman
  8. Yordania
  9. Maroko
  10. Brunei Darussalam

Peringkat 10 besar negara destinasi wisata halal yang tidak tergabung dalam OIC :

  1. Singapura
  2. Thailand
  3. Inggris Raya
  4. Afrika Selatan
  5. Perancis
  6. Belgia
  7. Hong Kong
  8. Amerika Serikat
  9. Spanyol
  10. Taiwan
BAGIKAN